Latest Entries »

Sabtu, 23 Januari 2010

Menjadi Manusia Sempurna bab3

Bab 3

Manusia Sempurna

4.1) Ragam Pendapat Tentang Kesempurnaan Manusia

4.1.1Pandangan Para Filosof Modern

Banyak perbedaan pendapat diantara berbagai kalangan seperti pemikir maupun filosof memandang hakikat kesempurnaan manusia. diantaranya yang mendasar adalah 5) :

a. Kesenangan manusia terletak pada sejauh mana ia dapat menikmati kelezatan-kelezatan dan kesenangan-kesenangan material. Dan untuk dapat meraih itu maka seseorang harus menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga asset dan sumber-sumber daya alam dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan kemakmuran dan kesenangan hidup manusia. Pandangan ini berpijak pada prinsip materialisme dan hedonisme serta individualisme.

b. Kesempurnaan manusia terwujud ketika sebuah masyarakat dapat meraih dan mengeksplorasi adet dan sumber daya alam semaksimal mungkin. Untuk mencapai tujuan itu, maka harus diupayakan aktualisasi kesejahteraan semua lapisan masyarakat yang bersangkutan. Pendapat ini adalah pendapat sosialisme (kesejatian masyarakat).

c. Kesempurnaan manusia terletak pada perkembangan spiritual dan maknawinya yang didapat melalui riyadhah dan perjuangan melawan kelezatan-kelezatan materi. (Pendapat ini bertolak belakang dengan pendapat poin a dan b di atas)

d. Kesempurnaan manusia terletak pada kesempurnaan rasionalitas (aqliyah)nya. Hal ini dapat diraih melalui ilmu pengetahuan dan filsafat.

MT Misbah Yazdi, Jagad Diri, Penerbit AlHuda, Jakarta, 2006

e. Kesempurnaan manusia terkandung pada kemajuan intelektualitas (aqliyah) dan moralitas (akhlaq)nya. Yang demikian itu diraih dengan jalan perolehan ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter-karakter kejiwaan yang utama.

Berdasarkan pemaparan diatas, agar dapat dikenal kesempurnaan hakiki manusia, maka dalam pemaparan dalil-dalil, diupayakan tidak bersandar pada prinsip-prinsip filsafat tertentu, tetapi dengan proposisi sederhana. Agar kemanfaatannya lebih besar dan merata untuk berbagai kalangan.

4.2. Pandangan Ahli Tasawuf Tradisional

Istilah manusia sempurna (Insan Kamil) ini diperkenalkan oleh Ibnu Arabi dan dikembangkan oleh Al Jilli.

Cyril Glasse, dalam buku Ensiklopedi Islam karangannya, menjelaskan bahwa manusia sempurna adalah manusia universal. 6) Sebuah doktrin sufisme yang dijabarkan secara mendetail oleh Abdul Karim Al Jilli (w.820/1417) didalam karyanya yang berjudul Al Insan Al Kamil. Dasar doktrin ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh ibnu Hambal bahwa “Tuhan menciptakan Adam dalam rupa-Nya ( Ala Suratihi).

Menurut Jabir Ibn Hayyan, seorang pakar kimia, :”Alam kecil diciptakan diciptakan sesuai dengan prototype alam besar. Alam kecil adalah manusia ketika menyadari asal-usul kejadian yang diciptakan dalam rupa Tuhan (ala suratihi)”.

Menurut Al Ghazali, “Sebelum terjadi penciptaan, Tuhan mencintai diri-Nya sendiri dalam keesaan yang absolut. Dan melalui cinta-Nya tampaklah diri sendiri untuk diri-Nya sendiri semata. Selanjutnya Ia berkehendak untuk melihat cinta yang semata tersebut, yakni cinta yang tidak melibatkan pihak lain dan tidak terdapat dualitas, dan merupakan obyek cinta yang abadi, maka Ia menghadirkan sesuatu yang belum terwujud sebagai bayangan atas dirinya sendiri, menganugerhkan sifat-sifat dan nama-Nya. Bayangan Tuhan tersebut adalah Adam.

Menurut Ibnu Arabi (w.1240), “Pintu keluar masuk menuju manusia sempurna adalah wahyu”. Maksudnya adalah doktrin-doktrin wahyu mengenai diskriminasi antara Yang Nyata dengan yang tidak nyata, dan pentahbisan terhadap Yang Nyata melalui kesempurnaan nilai-nilai kemanusiaan dan supernatural. Jika hal ini telah dipastikan di dalam diri, niscaya seseorang akan mencapai pusat dari wujudnya, dan manusia akan

1)Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam Ringkas, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta,2002

mencapai pada esensi dan tidak sekedar diluaran. Dalam keadaan seperti ini, setiap sikap perbuatannya sesuai kehendak Allah, bahkan identikm adanya, ia berada dalam kesempurnaan perbuatan, bahkan “tanpa nafsu” sedikitpun, karena ia mengidentifikasikan dirinya terhadap “sebab yang pertama” tanpa ada pihak luar yang mempengaruhinya. Demikian ini merupakan keadaan “nenek moyang manusia” (adam kadmon) atau “asal kejadian manusia” yang harmonis dengan fitrah

4.2) Manusia Sempurna Sebagai Tujuan Penciptaan

Yang paling menonjol dari pandangan tasawuf tentang manusia adalah dijadikannya manusia sebagai tujuan akhir dari penciptaan alam semesta. Pandangan ini bersumber pada hadits qudsi “lau laka, wa lau laka, ma khalaqtu al-alam qulaha”, yang artinya “kalau bukan karena engka (Ya Muhammad) tidak akan aku ciptakan alam semesta”. Engkau di dalam hadits diatas adalah Nabi Muhammad, tetapi ditafsirkan oleh sebagian sufi sebagai symbol manusia sempurna (insan kamil), yaitu bentuk manusia yang telah mencapai kesempurnaannya, yakni ketika ia telah mengaktualkan seluruh potensi kemanusiaannya.

Menurut Jalal al-Din Rumi “Ketika kebun mawar telah musnah, kemanakah kita akan mendapatkan semerbak mawar?”, jawabnya dari “air mawar”. Maksudnya adalah ketika Tuhan yang gaib tidak bisa kita lihat, maka melalui para Nabi dan Rasul pesan dan berita dariNya dapat kita peroleh. Oleh karena Nabi dan Rosul yang berpuncak pada Nabi Muhammad, adalah contoh manusia paripurna. Mereka inilah yang sesungguhnya patut dijadikan sebagai tujuan akhir penciptaan alam. Ketika Nabi dan Rasul tidak diturunkan lagi setelah “penutup para Nabi dan Rosul” yaitu Muhammad, maka peran itu diteruskan lagi oleh aulia Allah, baik itu sahabat, Al muqarobbin dan juga para sufi.

Adapun bentuk nyata dari pemuliaan Tuhan kepada manusia adalah tanggung jawab-Nya untuk menciptakan segala prasarana dan sarana yang Dia ciptakan di bumi ini, yang pada gilirannya memungkinkan manusia hidup, tetapi juga menjalankan fungsinya sebagai wakil atau khalifah-Nya di muka bumi. Secara praktis, Tuhan telah menciptakan segala apa yang ada di bumi ini untuk manusia, sebagaimana yang ada di dalam kitab sucinya, agar rencana Tuhan dalam menciptakan manusia sebagai khalifah-Nya bisa terlaksana dengan baik.

-o0o-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar