Latest Entries »

Sabtu, 23 Januari 2010

Menjadi Manusia Sempurna bab 2

Bab 2

Mencari kesempurnaan

2.1. Definisi kesempurnaan

Kesempurnaan (al kamal) merupakan sebuah karakter (yaitu suatu kualitas positif) yang berada dalam wilayah eksistensi.

1) namun apabila kita ingin membandingkan antara sesuatu yang merupakan suatu eksistensi dengan obyek selainnya. Namun pada saat yang sama, ia tidak dianggap sebagai kesempurnaan apa bila dibandingkan lagi dengan kelompok lainnya (dalam kelompok ke dua). Lebih jauh, ia mungkin dianggap sebagai kekurangan atau bahkan sesuatu yang mengurangi nilai keberadaan (wujudiyah) atas eksistensi yang disandangnya. Contohnya, rasa manis dianggap sebagai kesempurnaan bagi sebagian buah seperti anggur dan semangka, namun pada saat yang sama kesempurnaan buah asam justru terletak pada rasa asamnya.

Rahasia hal diatas terletak pada suatu kenyataan bahwa suatu wujud mempunyai batasan esensial (al-hadd al mahawi) tertentu yang hanya ia miliki sendiri, dan wujud itu akan mengalami perubahan menjadi wujud atau jenis lain jika ia ‘melampaui’ dari batasan tersebut. Suatu esensi (mahiyah) akan memiliki kesesuaian dan keserasian berdasarkan tabiat dan karakter dengan sejumlah sifat tertentu. Kesempurnaan hakikat suatu eksistensi apapun sesungguhnya lebih merupakan sifat, atau sifat-sifat yang menjadi tuntutan atas suatu aktualisasi akhir dari suatu eksistensi. Sedangkan perkara lain (yang dianggap sempurna), sesuai dengan keadaan atsar (pengaruh) yang dimilikinya dalam membantu peraihan kesempurnaan, sesungguhnya merupakan pendahuluan (mukadimah) bagi kesempurnaan yang sesungguhnya (atas eksistensi yang bersangkutan).

2.2. Mencari Kesempurnaan

Jika kita amati berbagai motif yang ada dalam jiwa dan kecenderungan-kecenderungannya kita akan menemukan bahwa kebanyakan motif utama tersebut adalah keinginan meraih kesempurnaan.

2) Kita tidak akan menemukan seorangpun yang menyukai kekurangan pada dirinya. Manusia senantiasa berusaha sekeras mungkin untuk menghilangkan berbagai cela dan cacat dirinya samapi ia mendapat kesempurnaan yang diinginkan. Sebelum menghilangkan segala kekurangannya itu ia berusaha sedapat mungkin untuk menutupinya dari pandangan orang lain. Apabila motif ini berjalan sesuai dengan nalurinya yang sehat, ia akan meningkatkan kesempurnaannya, baik yang bersifat materi maupun spiritual. Namun, bila motif ini menyimpang dari jalannya yang normal – lantaran faktor-faktor dan kondisi tertentu- justru akan melahirkan sifat-sifat yang buruk seperti congkak, sombong, riya dan lain-lain.

1. MT Misbah Yazdi, Jagad Diri, Penerbit AlHuda, Jakarta, 2006

2. MT Misbah Yazdi, Iman Semesta Merancang Piramida Keyakinan,penerbit Al Huda, 2005

Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa ingin sempurna merupakan faktor yang kuat di dalam jiwa setiap manusia. Akan tetapi, biasanya factor ini terefleksikan dalam sikap nyata yang dapat menarik perhatian. Kalau saja direnungkan sejenak, kita akan dapat mengetahui bahwa sesungguhnya dasar dan sumber berbagai sikap lahiriah itu adalah cinta kepada kesempurnaan.

2.3 Akal sebagai kesempurnaan Manusia

Sesungguhnya proses kesempurnaan dan kesempurnaan pada tumbuhan itu bersifat niscaya dan terpaksa karena tunduk dan terpenuhinya faktor dan kondisi luar diri mereka.4) Sebuah pohon tidak tumbuh dengan kehendaknya sendiri, ia tidak menghasilkan buah-buahan sesuai kehendaknya, karena tumbuhan tidak memiliki perasaan dan kehendak. Berbeda dengan binatang; ia memiliki kehendak dan ikhtiar itu timbul dari nalurinya semata, dimana proses dan aktivitasnya terbatas hanya pada terpenuhi kebutuhan-kebutuhan alamiah dan atas dasar perasaan yang sempit dan terbatas pada kadar indra hewaninya saja.

Adapun manusia, disamping memiliki segala kelebihan yang dimiliki tumbuhan dan hewan, iapun memiliki dua keistimewaan lainnya yang bersifat ruhani. Dari satu sisi, keinginan fitrahnya tidak dibatasi oleh kebutuhan-kebutuhan alami dan material, dan dari sisi lain ia memiliki akal yang dapat memperluas pengetahuannya sampai pada dimensi-dimensi yang tak terbatas.

Sebagaimana kesempurnaan yang dimiliki oleh tumbuhan itu bisa berkembang dengan perantara potensinya yang khas, juga kesempurnaan yang dimiliki oleh binatang itu dapat dicapai dengan kehendaknya yang muncul dari naluri dan pengetahuannya yang bersifat inderawi, demikian pula dengan manusia. Kesempurnaan khas manusia pada hakikatnya terletak pada ruh yang dapat dicapai melalui kehendaknya dan arahan-arahan akalnya yang sehatm yaitu akal yang telah mengenal berbagai tujuan dan pandangan yang benar. Ketika ia dihadapkan pada berbagai pilihan, akalnya akan memilih sesuatu yang lebih utama dan lebih penting.

Dari sini dapat kita ketahui bahwa perbuatan manusia itu sebenarnya dibentuk oleh kehendak yang muncul dari kecenderungan-kecenderungan dan keinginan-keinginan yang hanya dimiliki oleh manusia dan atas dasar pengarahan akal. Adapun perbuatan yang dilakukan karena motif hewani semata-mata adalah perbuatan yang tentunya, bersifat hewani pula, sebagaimana gerak yang timbul dari kekuatan mekanik dalam tubuh manusia semata-mata merupakan gerak fisis saja.

Secara fitrah manusia memiliki kecenderungan untuk berusaha menemukan kesempurnaan insaninya dengan melakukan perbuatan-perbuatan. Akan tetapi untuk memilih perbuatan-perbuatan yang dapat menyampaikannya kepada tujuan-tujuan yang diinginkan, terlebih dahulu ia harus mengetahui puncak kesempurnaannya.

3. MT Misbah Yazdi, Iman Semesta Merancang Piramida Keyakinan,penerbit Al Huda, 2005

Puncak kesempurnaanya ini hanya akan dapat diketahui manakala ia telah mengenal hakikat dirinya, awal dan akhir perjalanan hidupnya. Kemudian ia harus mengetahui hubungan yang baik maupun negatif - diantara berbagai perbuatan dengan aneka ragam jenjang kesempurnaan, sehingga ia dapat menemukan jalannya yang tepat. Selama ia belum mengetahuiu dasar-dasar teoritis pandangan dunia ini, ia tidak akan dapat menemukan sistem nilai dan ideologi yang benar.

-o0o-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar